Tampilkan postingan dengan label Contest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contest. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

Satu Tahun Penuh Berkah Mozaik Indie

 
Selamat Ulang Tahun Penerbit Mozaik Indie!!! 
Sengaja aku ucapkan kalimat ajaib itu di awal paragraf, agar semua pembaca dapat langsung mengetahui inti tulisan ini. Yaitu rangkaian kata selamat karena Penerbit Mozaik Indie telah berhasil menjejaki satu tahun langkahnya di dunia publishing Indonesia. 
Penerbit yang langsung kusukai tak hanya dari buah karyanya, tapi juga profesionalitas, konsistensi, dan eksistensinya bertahan di antara sederetan penerbit lain yang sudah senior. Juga karena perasaan serumpun. Sama-sama dari Jawa Timur, hehe #modus 

Senin, 25 Februari 2013

Resep Cinta Meriahkan Lebaran

Kasih sayang tak hanya ditunjukkan melalui kata-kata cinta memerahkan sukma. Kasih sayang juga dapat diekspresikan melalui tindakan kecil namun bermakna untuk orang yang kita sayangi. Sederhananya dengan memasakkan makanan dengan resep cinta.
Begini ceritanya…
Alkisah, hari itu aku dan ibu sedang bersiap-siap menyambut hari bahagia yang dinanti-nanti umat Islam sedunia. Yap! Hari lebaran.
Kami berkutat di dapur dari pagi hari. Menyiapkan makanan yang sekiranya besok akan enak tersaji. Biasanya adat Madura adalah menyediakan makanan bersantan layaknya opor ayam, kuah lada hitam, lodeh, dsb. Tapi aku berencana membuat suatu inovasi baru dalam kombinasi makanan tersebut. Aku ingin memasak lontong isi ayam. Ibupun menyetujui. Singkat kata, kami mulai browsing menu-menu  masakan.
Lamaaaa ga ketemu-ketemu resep lontong yang unik dan enak hingga akhirnya…
Taraaaaa kutemukan yang ini :

Senin, 04 Februari 2013

Catatan Untuk Sang Cinta Pertama

“Tha, ini kalo mau pinjem buku catetanku.” bocah laki-laki menepuk punggungku seraya menyodorkan sebuah buku bersampul coklat.
“Makasih ya.”
Hanya terimakasih yang bisa terlontar dari bibirku. Ingin rasanya kuucapkan ‘Makasih, kamu baik banget. Satu-satunya cowok di kelas ini yang care banget padaku. Aku terharu, bla, bla, bla.’
Namun lidah ini rasanya kelu. Aku terlalu grogi. Aku gugup harus menerima pandangan sejuk dari anak laki-laki di depanku. Gimana ga? Akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang ‘aneh’ untuknya. Aku ingin selalu bertemu dengannya. Menyapanya, tersenyum, atau sekedar jalan ke kantin bareng. Sejenak dia menghilang dari pandanganku rasanya aku harus menanyakan keberadaannya sekarang juga. Di kelas, aku sering mencuri pandang padanya. Ah, apakah ini yang Mama bilang cinta? C.I.N.T.A.